Renungan 20 May 2017 Periksalah Iman Anda (Check Up your Faith) Tamat

Lanjutan bagian ke dua Check up your Faith…

  1. Pelayanan Sebagai Kehormatan & Beban – Rom. 14 : 17-18

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.  Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.” RM. 14:17-18. Mari kita perhatikan huruf tebal dari ayat Roma diatas bahwa urusan Tuhan bukan soal kebutuhan jasmani saja, karena Tuhan sendiri memberitahu kita di Alkitab bahwa burung pipit yang diudara dan tidak dipelihara oleh manusia tetap Tuhan jaga sehingga dapat mencukupi kebutuhan jasmaninya. Apalagi kita yang berstatus sebagai Anak-anakNya dan kita memanggil Bapa di surga apa mungkin tidak memperdulikan kita yang memanggilnya Bapa. Syaratnya mudah, masih ingat dengan ayat Matius 6 : 33 (masih hafalkan?) Coba kita renungankan kembali ayat tersebut, kalau kita mau memberikan waktu untuk selalu mencari Kerajaan-Nya, percayalah bahwa masalah makanan dan minuman akan terpenuhi dengan sendrinya.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” Yoh. 14:6 dan masih ada beberapa ayat lagi yang menjelaskan apa itu kebenaran ( Yoh. 5:33, Yoh. 8:32, Yoh. 17:17,19 ). Ada 3 unsur yang mengikuti sebuah kebenaran yaitu Sebuah pernyataan yang benar, Perwujuban dari pernyataan tersebut dan sifatnya harus Kekal, kalau ke 3 unsur itu tidak terdapat didalam kebenaran, maka Saudara dapat meragukan kebenarannya tersebut. Karena di dunia dimana kita tinggal banyak sekali didapatkan pernyataan dan kebenaran tetapi tidak kekal. Contoh kasus karena seseorang suka kegereja dan mengikuti berbagai pelayanan maka tanpa sadar kita sering memberikan pernyataan kalau orang tersebut beriman, tiba-tiba orang tersebut menghilang dari seluruh kegiatan gereja dan tidak kegereja pula, dan setelah diselidiki oleh tim gereja ternyata orang tersebut salah satu dari karyawan yang kena di phk oleh perusahaannya dikarenakana kondisi keuangan perusahaan, orang tersebut kecewa dan menyalakan Tuhan kenapa dan tidak adil dan banyak lagi komplain karena kecewa sama Tuhan, akhirnya meninggalkan seluruh kegiatan gereja. Maka pernyataannya dan perwujubannya diawalnya benar tetapi tidak kekal sifanya, contoh teladan yang mempunyai ke 3 unsur kebenaran adalah Abraham (Bapa orang beriman).

Sebuah kebenaran pasti diikuti oleh damai sejahtera dan sukacita karena Roh Kudus turut bekerjasama didalam mewujubkan kebenaran tersebut. Didalam sebuah pelayanan gereja apapun status Saudara didalam ke pengurusan gereja/persekutuan lakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh sehingga kebenaran itu akan terwujub didalam prilaku kehidupan rohani kita karena adanya pernyertaan Roh Kudus didalam pelayanan sehingga perasaan damai sejahtera dan sukacita akan tercermin dalam diri kita dan dapat meng-impartasikan kepada orang disekitarnya. Maka pelayanan kita akan menjadi berkenan di hadapan Allah dan dihormati oleh manusia, jangan pernah menjadikan sebuah pelayanan sebuah beban tetapi jadikanlah sebuah kehormatan yang dipercayakan Tuhan dan jemaat kepada kita dalam status sebagai pengurus gereja atau persekutan.

  1. Berpikir Positive Dalam Segala Hal – Rom. 8 : 28

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”. Rom. 8 : 28. “It’s All Good” rasanya tidak berlebihan kalau saya sampaikan bahwa semua rencana Tuhan adalah Baik, karena kita harus mempunyai Iman dan percaya pada sebuah kebenaran bahwa seperti janji-Nya di ayat diatas dimana sesungguhnya Allah tidak tidak pernah tinggal diam dalam segala sendi-sendi kehidupan kita baik di dunia sekuler (dunia kerja) apalagi di dunia rohani tetapi dengan sebuah syarat mutlak yaitu Mengasihi Dia barulah kita akan masuk didalam rencana Allah. Jadi kalau kita belum mengasihi Tuhan didalam kehidupan kita sehari-harinya, maka janganlah kita komplain mengapa semua usaha kita tidak berjalan dengan baik. Bagaimana caranya supaya hidup kita beruntung dan usaha kita berhasil ? Baca dan Renungkan Yosua 1 :7-8

Kalau kita sudah paham dengan ayat Roma 8 : 28 Saya mengajak kepada Saudara semua untuk berpikir positif mulai hari ini, karena kita mempunyai teman yang selalu bersama-sama Saudara yang saling bahu membahu melakukan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Mengapa saya katakan adanya teman artinya kita tidak boleh egois mau menang sendiri saja, harus adanya hubungan timbal balik atau take and give. Jadi kita tidak bisa hanya menyerahkan kepada Tuhan yang bekerja sendirian sedangkan kita cukup diem-diem atau duduk santai saja maka semua kebaikan, keberuntungan dan keberhasilan akan datang secara tiba-tiba.

  1. Quite Time ( Bersaat Teduh ) – Maz. 5 : 3 ; 1 : 2

“TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku , pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu”. Maz. 5 : 3 dilanjutkan ayat “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” Maz. 1 : 2.

Kalau kita melihat di Mark 1:35 Tuhan Yesus pagi-pagi sekali sudah mencari tempat yang sunyi untuk berdoa dan mungkin juga melaporkan semua kegiatan yang sudah dilakukan-Nya demikianpun memberitahu kepada Bapa apa yang akan dilakukan-Nya pada hari ini. Tuhan Yesus sudah memberikan contoh kepada kita semua bahwa seperti ini kegiataan pagi-Nya dan kita sebagai murid-murid-Nya, bukankah seharusnya mencontoh sikap dari guru kita ?

Saya pribadi setiap pagi bangun tidur, pasti turun dari tempat tidur dan langsung berlutut dan berdoa untuk mengucap syukur karena saya masih diberi kesempatan untuk menjalankan hari yang baru ini. Kemudian dilanjutkan dengan bersaat teduh 15-20 menit dan merenungkan apa yang Tuhan inginkan didalam renungan pagi yang dibaca dimana point-point penting akan menjadi target saya untuk sepanjang hari itu, saya selalu minta hikmat sehingga sepanjang hari yang dilalui masih berjalan dalam koridor komitmen. Kemudian dilanjutkan dengan doa permohonan pribadi dan syafaat, suasana pagi ini adalah sebuah moment yang terindah dimana saya dapat berkomunikasi dengan Bapa dalam kebebasan. Dampaknya saya selalu melewati hari-hari dengan penuh sukacita tanpa ada beban yang menghalangi dan selalu merasakan adanya Tuhan bersama saya sepanjang hari, terkadang sewaktu-waktu saya akan berdoa singkat mengucap syukur apa saja yang terlintas didalam hati. Rekan-rekan dikantor sering berkata kepada saya selalu happy, lebih tepatnya sukacita. ( Ini pengalaman pribadi saya sampai hari ini dan tentunya harapan saya para pembaca dapat mempraktekan langkah positif ini dan silahkan di sharekan di kolom kesaksian ya….)

Ayat mazmur diatas menggambarkan sebuah hubungan pemazmur yang mempunyai hubungan intim dengan Tuhan dan semakin kita sering berkomunikasi dengan Tuhan, tentunya kita akan semakin paham akan kehendak Tuhan bagi kehidupan kita. Janganlah kita kalah dengan keadaan misalkan pagi hari harus siap-siapkan ini itu untuk keluarga dll, kalau memang itu keadaannya mengapa kita tidak bangun 30 menit lebih awal dari kebiasaan kita. Saya katakan disitulah Goliath sedang menanti Saudara untuk mengalahkannya, Iblis tidak mau kita pagi-pagi berkomunikasi dulu dengan Tuhan dan senang kalau kita sudah disibukan dengan kegiatan rutin. Iblis paling suka kalau kita banyak berdalih dengan berbagai alasan yang sepertinya masuk akal dan logika, coba renungkanlah kembali !.

  1. Give Thanks ( Mengucap Syukur ) – 1 Tes. 5 : 18

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. 1 Tes. 5:18. Perhatikan kata “dalam segala hal” artinya suatu kondisi yang mutlak bukan ? Tidak bisa ditawar-tawar lagi, baik susah / duka atau senang diwajibkan atau dikehendaki Allah untuk selalu mengucap syukur. Karena disaat kita dapat mengucap syukur dalam kondisi yang tidak baik maka disitu adanya sebuah kekuatan yang luar biasa dan kebahagian. Jangan sampai kita yang sudah mengenal Allah tetapi tidak tahu bagaimana mengucap syukur atau tidak pernah mengucap syukur pula.

Kalau kita diminta untuk jujur rasanya sangat sulit mengucap syukur setiap saat dan dalam segala hal cukup manusiawi sebenarnya, coba dibayangkan bila kita sedang difitnah, disakiti, dihina, dikucilkan, dicuekin…kejadian sepertil ini sering terjadi didalam kehidupan bermasyarakat yang sedang kita jalankan, bisa terjadi di tempat kerja, lingkungan tempat tinggal atau jangan heran di gereja pun bisa terjadi hal-hal seperti itu. Ketika kita bisa mengucap syukur dalam segala hal artinya ada sebuah kekuatan besar yang keluar dari dalam diri kita dan saya percaya Roh Kudus turut berperan serta untuk menghibur sehingga memampukan kita mengucap syukur dalam segala hal. Apakah semua yang tidak baik itu akan hilang dalam sekejap dikarenakan kita mampu mengucap syukur ? Jawabannya bisa “Tidak dan Ya”. Ketika Saudara katakan “Tidak” maka secara tidak langsung sudah menciptakan sebuah mindset yang negatif dibenak kita dan timbulah keraguan didalam iman Saudara, ini sangat berbahaya sekali karena dampaknya akan meluas menjadi bersungut-sungut dll dll. Ketika Saudara menjawab “Ya” disaat itu juga kita sedang diuji untuk naik kelevel yang lebih tinggi lagi, karena kita percaya bahwa Tuhan pasti bersama kita dalam mengatasi masalah yang ada.

Masih ingat dengan ayat Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”. Ayat ini memberikan sebuah pengertian apapun yang terjadi dalam hidup kita bahwa Allah akan mendatangkan kebaikan karena sesungguhnya Allah bersama kita disaat menghadapi masalah untuk memberi kekuataan. Artinya kita diminta untuk mempunyai Sikap yang positif dalam menghadapi masalah dan merupakan ciri-ciri dari orang yang beriman. Apakah mungkin kita masih dapat mengucap syukur pada saat menghadapi kondisi yang buruk ? Saya percaya Saudara semua sudah bisa menjawabnya. Tuhan memberkati….

Renungan kotbah oleh Ev. Drs. Edward Pipie Jahja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *